Maaf sebelumnya kepada penulis dan para akhwat yang mungkin telah bersetuju dengan epilog catatan dimaksud, dan catatan ini tidaklah bermaksud ingin memberikan tandingan, tapi saya hanya berusaha mencoba menggali lebih jauh dengan titik pandang yang berbeda. Afwan...
Berikut potongan catatan yang saya ambil dari sumber catatan dimaksud : (tulisan miring adalah tulisan pemilik catatan yang berjudul “maaf!! Saya tidak ingin memanggil engkau ukhti”.
Salah satu istilah panggilan yang saya tidak sukai adalah dengan panggilan “ukhti”. Dalam artian ini saya sampaikan bahwa apa yg saya sampaikan ini adalah dari hasil pemikiran saya pribadi, juga mewakili sebuah uneg-uneg dari sahabat2 saya para ikhwan di lingkungan kampus dan sesama aktivis dakwah,juga para ikhwan dan akhwat pada umumnya yg sepaham dengan saya tentang hal ini.
Sejak SMA dan dari evaluasi saya dengan berbagai teman-teman. Ternyata panggilan ini (ukhty) memang bisa berbahaya bagi kita. Dalam artian dapat mengotori hati kita.
Jujur..Jujur…jujur…
Ada suatu perasaan keromantisan di sana..
Ada bunga-bunga di sana…
Ada suatu cinta di sana..
Ada keakraban (bukan pada tempatnya) di sana..
Ada kesukaan hati disana..
Ada panggilan seperti ‘sayang” disana..
Dan ada juga syaithan yang bermain di sana.
Maka nya saya lebih suka dengan memanggil mbak atau dik atau bahkan panggil langsung namanya daripada UKHTI…
Why.... ???
Karena celah syaithan untuk bermain di sana bisa saya minimalisir..
Karena sekat itu tidak saya dobrak sehingga batas yang seharusnya memang ada tidak saya buat hancur luluh.
Sahabat…Kalian boleh berkomentar..Silahkan …
Tapi ada “rasa yang berbeda” dalam kata ukhti yang tidak dapat kalian pungkiri.
Dan menurut pendapat saya,kata ukhti juga mempunyai “rasa” yang berbeda. Makanya saya lebih suka memanggil “mbak” atau “dek” atau “saudariku” yang berkesan lebih santai dan tidak ada kesan eksklusive yang terkadang menjadi batu sandungan dalam dakwah kita.
Jadi buat sahabat semua..Maafkan yaa, saya tak ingin memanggil engkau: 'UKHTI…!'
Hmmm.., Saya sendiri sesekali menggunakan kata itu untuk menyapa saudari-saudariku yang juga menyapaku dengan kata ‘Akhi’ jika bertemu, atau mungkin hanya sekedar mengenal mereka di dunia maya..
Kata ‘ukhti’ bukanlah kata sapaan yang seketika lahir bersama dengan dibentuknya organisasi para aktivis dakwah, atau majelis dan pengajian, dan pondok-pondok pesantren yang ada. Ia lahir sedari dulu, manifestasi lisan yang berangkat dari terminal hati yang didasarkan kepada ketauhidan.
Ukhti adalah kosa kata bahasa Arab yang bermakna saudaraku (untuk perempuan). Bukanlah menjadikan kita terlihat kearab-araban (Arabisme) lantaran mengakulturasikannya dalam percakapan sehari-hari, melainkan sapaan kata itu adalah bentuk refleksi dari sebuah ikatan persaudaraan dunia akhirat yang telah diikat oleh Allah “Innamal Mukminuna Ikhwan…”sesungguhnya mukmin itu bersaudara”
Ia panggilan yang akan kita ucapkan kepada mereka yang sedang bersungguh-sungguh melaksanakan nilai-nilai keislaman, atau mereka yang ingin keluar dari belenggu dosa, atau mereka yang ingin mencharge kembali jiwanya menjadi pribadi muslimah yang kaffah. Dan sungguh kata itu tidak akan pernah menjadi sapaan bagi mereka wanita – wanita yang tidak ridha Allah sebagai Tuhannya, Muhammad sebagai Rasul Allah, dan Islam sebagai Agama yang benar.
Aneh rasanya jika kita harus menghilangkan kata itu karena sebuah alasan yang hanya berangkat dari asumsi perasaan. Lihatlah panggilan itu, pasti hanya akan kita temui di lingkungan yang di dalamnya terdapat majelis-majelis ilmu ilahiyah, bukan pada tempat-tempat yang menyimpan keasyikan duniawi…
Jujur.. jujur… jujur.. coba jika dibandingkan dengan sapaan yang lain seperti mbak dan dik ??? adakah om-om hidung belang akan merayu seorang wanita dengan sapaan ‘ukhti’ ??? adakah pemuda pendewa nafsu akan memulai pendekatannya kepada mereka yang malam hari di jalan dengan sapaan ukhti ???
Tidak.. tidak.. tidak.., mereka malah akan memulainya dengan sapaan ‘mbak atau dik’ (cat : tidak berarti kata yang dimaksud mengandung keburukan).
Dimanakah letak kesalahan itu ??
“manakah yang hina menurut anda ??? anak hasil zina ataukah perbuatan zinanya ?? tentu perbuatan zina itulah yang hina, maka jangan pernah menghinakan perut yang mengandung anak dari hasil zina hanya karena berangkat dari perasaan dan pemikiran kita, pun demikian kata ‘ukhti’ yang menurut perasaan kita mengandung kemesraan yang tidak pada tempatnya, salahkan perbuatan dan perilaku hati yang membiarkan gejala nafsu syaitan itu bermain di labirin hati. Charge lagi keimanan kita agar menjadi penyekat yang ampuh.

Saudariku..
Syaitan punya banyak cara untuk menjebak kita ke lubang kehinaan, karena ia begitu akrab dengan hati kita. Ingin menghindar ?? perbaiki dan jagalah hati. Jika setiap ruang, tempat, jarak, dan kedekatan itu begitu berlebihan, maka pasti akan ada benih-benih dosa yang bersemayam di sana. Maka bukanlah sapaan ‘ukhti’ yang menjadi cikal bakal dosa itu, tapi interaksi bahasa tubuh dan perilaku hati kita lah yang melahirkan romantisme yang tidak pada tempatnya. kata-kata yang baik pasti akan berkonotasi buruk jika ia bermuara dari perlaku hati yang buruk pula, apakah itu ‘ukhti’, mbak, dik, saudara, sayang, atau nama kita sendiri, sekali lagi kata-kata yang baik ini semuanya akan bersinonim biruk jika sapaan itu adalah sapaan yang lahir dari maksud dan respon hati yang buruk.
jadi bukanlah kata ukhti adalah kata yang berbahaya bagi kita dalam artian dapat mengotori hati seperti yang tertulis, akan tetapi hati kitalah yang membahayakan dan mengotori kata ukhti itu yang sebenarnya memiliki makna yang baik.
Karena kata-kata yang dapat mengotori hati kita adalah kata-kata yang hanya mengandung makian, cacian, hinaan, ejekan, gunjingan, cibiran dan lainnya, dan sekali lagi bukan kata-kata yang bermakna baik.
‘Ukhti.. ‘Panggilan itu adalah panggilan solidaritas, ukhuwa, perjuangan dan kehormatan untuk para akhwat, seperti mereka para akhwat yang berjuang melakukan perlawanan terhadap segala bentuk regulasi yang memberi pukulan terhadap eksistensi islam, di Eropa, Amerika, Asia bahkan di Negara kita sendiri. Lengking suara kami keras seperti keras pula suaramu ‘jangan padam semangatmu ukhti’, ukhti kami di belakangmu, sanggup berjuang melawan suara sumbang yang mencoba melepaskan hijab keislamanmu.
Identitasmu Ukhty...

Laa tahzan.....
Maaf, diriku akan tetap memanggilmu ukhti.. karena dirimu memang adalah saudariku yang tidak terikat oleh nasab, tapi terikat oleh ikatan aqidah…
Semoga bermanfa'at
Dikutip sesuai Aslinya Oleh :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=446569357116



Positif thinking aja.
BalasHapusSemua kehidupan didunia baik buruk nya sdh ada yg atur.